Senin, 16 Maret 2009

TERM OF REFERENCE Bedah Film The Burning Season (The Life and Death of Chico Mendes) Dan Refleksi Gerakan Sipil Jawa Tengah

Latar Belakang
Panjangnya perjalanan sejarah serikat, sejak masa penjajahan Belanda, serta banyaknya jumlah federasi perserikatan yang kita miliki sampai saat ini ternyata belum cukup untuk menjawab tantangan perjuangan. Jawa tengah mempunyai 32 serikat/ federasi dengan jumlah keanggotaannya mencapai 611.133 atau separo jumlah remi buruh Jawa Tengah. Namun kebesaran ini belum berbanding lurus dengan maujud dalam gerakan buruh yang kuat? Pada prakteknya kebesaran ini hanya berhenti pada pencarian ranking kebesaran yang semu.
Bagaimana mungkin kita dapat berserikat dengan kuat, ketika gerakan buruh terpotong di elit, sementara mereka tertidur nyenyak diantara keresahan bahkan depresi konstituen (buruh). Melihat gejala memprihatinkan ini penting kiranya memikirkan kembali malaise (kelesuan) gerakan serikat saat ini. Sementara kekuatan lain (modal) yang oposan semakin subur, besar, buas siap untuk menelan kita.
Semuanya terintegrasi kuat dengan gagasan yang relatif kuat dan terukur, seperti Labour Market Fleksibility (LMF), lebih dari itu mereka sudah berjejaring dengan negara juga media untuk melegitimasi proyek besar tersebut. Dan dalam pelaksanaannya satu semester awal ini terbukti keberhasilannya, meskipun tidak tercatat, namun angka status buruh yang terlindas gagasan LMF baik yang terkena PHK maupun berganti status menjadi kontrak/outsorching cukup menunjukkan angka signifikan.
Dengan ke-diam-an dan kebingungan kita sampai saat ini, bukankah kita telah menunjukkan kelemahan kita dalam merumuskan visi perjuangan. Seolah proyek LMF ini efektif juga menyuburkan sikap pesimistik dan menghilangkan ruh juang kita di serikat. Kurangnya proses belajar bersama, dalam merumuskan arah perjuangan SB sekiranya adalah persoalan mendasar di serikat buruh saat ini. Mengenai beberapa kondisi di atas terdapat beberapa persoalan yang menyebabkan kondisi pergerakan kita tidak cukup bertaring:
Pertama, tidak adanya perspektif yang terintegrasi menjadi satu visi bersama membangun serikat yang kuat ketika barisan musuh kita beraliansi dengan kekuatan negara. Fragmentasi gerakan cukup menjadi persoalan serius. Masing-masing memaksakan diri bergerak sendiri dan tidak terkoordinasi.
Kedua, lemahnya militansi dalam hal kesabaran. Selama ini militansi hanya dimaknai dengan terus menerus melawan tanpa henti dan takut, padahal ada bentuk militansi yang cukup berat untuk dijalankan, yaitu militansi dalam hal kesabaran untuk membangun gerakan buruh. Kalau sikap ini tidak muncul bagaimana menghadapi badai besar LMF maupun intimidasi PHK. Saat ini kita lemah dalam pengalaman organisasi ditambah tanpa militansi. Dengan demikian penting bagi gerakan buruh untuk sadar akan kondisi objektif maupun subjektif kita untuk mewujudkan gerakan buruh yang mempunyai daya tawar.
Ketiga, dalam strategi perjuangan tidak menghubungkan perjuangan politik dengan perluasan basis sosial potensial yang akan menjadi pondasi proses penguatan gerakan. Dengan demikian bentuk pengorganisasian ini akan memberikan ruang dan kesempatan kepada kaum buruh untuk berorganisasi dan berjuang secara kolektif.
Keempat, membangun kekuatan di media. Selama ini media menjadi ladang mereka para korporat, pengusaha. Dan jarang sekali ini dipertimbangkan oleh pegiat serikat buruh. Dengan melihat kecenderungan masyarakat kita yang banyak menggemari media fisual, bagaimana ini tidak kita manfaatkan sebagai politik pencitraan. Bagaimana cara ini cukup berhasil dalam panggung sejarah gerakan di indonesia akan tetapi seolah-olah tidak cukup mempunyai makna bagi serikat.
Berdasarkan kegelisahan di atas kami bermaksud mengajak kawan-kawan untuk merefleksikan film ini sebagai embrio keberhasilan brazil dan negara-negara amerika latin lainnya dalam membangun perlawanan terhadap cengkeraman global, sebagaimana land reform di Brazil yang dilakukan oleh serikat buruh karet dengan strategi yang digunakan oleh figur Chico Mendes. Dengan mengkaji perjuangan mereka, diharapkan dapat menumbuhkembangkan perjuangan buruh bersama dengan gerakan sosial dari kelelapan tidur sekarang ini.

Tujuan
Melalui Bedah Film ini diharapkan dapat mengembalikan spirit perjuangan serta mendorong kawan-kawan serikat untuk merumuskan gerakan serikat menghadapi LMF.


Target Kegiatan
Dari adanya bedah film ini, target yang diharapkan antara lain :
1. Adanya sharing membangun gerakan sosial
2. Terciptanya komunikasi antar serikat, gerakan mahasiswa maupun gerakan sosial lainnya.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/tanggal : Senin, 16 Maret 2009
Pukul : 14.00 WIB
Tempat : Yayasan Wahyu Sosial (YAWAS)


Pemateri
Proses Diskusi ini akan dihantarkan oleh pemateri
1. Evarisan Direktur LRC K3JHAM,
Refleksi Kondisi HAM Jawa Tengah Pasca Reformasi.
2. Triono W Sudibyo (Aliansi Jurnalis Independen)
Refleksi gerakan media yang sebangun dengan gerakan akar rumput.
3. Prabowo (Aktifis Buruh Jawa Tengah)
Refleksi Fragmentasi Gerakan Buruh Di Tengah Tekanan Pasar Yang Semakin Berat,



Peserta
Bedah film ini dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta dari berbagai elemen: Serikat Buruh/Pekerja, Jurnalis, LSM, aktivis mahasiswa, akademisi dan masyarakat umum.


Penyelenggara
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Wahyu Sosial ( YAWAS )

Penutup
Semoga dari uraian di atas bisa dipahami dan kebutuhan serta arti penting dari kegiatan yang akan dilaksanakan tersebut, dengan harapan akan ada dukungan yang diberikan untuk mewujudkannya.



Semarang, 10 Maret 2009
Yayasan Wahyu Sosial ( YAWAS )



Khotib
Direktur Eksekutif

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Komentar