Term of Reference
Bedah Buku
MADILOG
Bedah Buku
MADILOG
Puluhan tahun silam, tepatnya pada tanggal 15 Juli 1942, di sebuah gubuk reot di daerah Kalibata, seorang pejuang senior mulai berkutat dengan kertas dan tulisan yang sangat kecil-kecil. Saking kecilnya, tulisan yang dia buat hanya bisa ia baca sendiri. Bahkan, kertas tulisan itu bisa dilipat menjadi alas kaki meja. Hal itu semata-mata untuk menjaga kerahasiaan harta berharganya dari incaran mata-mata jepang.
Selama lebih kurang 8 bulan ia menulis tentang cara berfikir yang seharusnya dijalankan oleh bangsa Indonesia jika ingin mencapai kesejahteraan dan kemajuan. Ia menulis setiap hari meskipun dalam keadaan lapar.
Pria yang berumur hampir 50 tahun ini sebenarnya berada dalam kondisi yang amat miskin. Kesehatannya pun tidak terlalu baik. Oleh sebab itu, ia hanya mampu menulis sekitar tiga jam sehari. Lebih jauh lagi, dia tidak punya cukup uang untuk membeli buku referensi agar tulisannya lebih berkualitas.
Laki-laki itu adalah Tan Malaka, lengkapnya Ibrahim Gelar Datuak Tan Malaka. Seorang yang lebih dari 20 tahun sebelumnya berada dalam pembuangan jauh dari negeri yang dicintainya. Namanya, Tan Malaka atau Ibrahim, sudah dua dasawarsa tidak pernah lagi digunakan. Telinganya tidak pernah mendengar orang memanggilnya dengan nama sebenarnya. Ia lebih terbiasa dengan nama Ong Son Lee, Elias Fuentes, Husein, dan masih banyak nama samaran lainnya.
Tan Malaka meninggalkan Pulau Tumasik, menyelundup masuk ke Indonesia karena membaca tanda-tanda kekalahan Belanda dalam perang perang melawan Jepang, awal 1942. Dari Singapura, ia menaiki kapal kayu menyeberang ke Sumatera. Padahal, jika menuruti akal sehat, Tan Malaka seharusnya sudah puas dengan kehidupan yang nyaman di Singapura sambil mengajar di sebuah sekolah Cina tingkat lanjutan.
Namun, panggilan tanah air tidak kuasa ditolak oleh Tan Malaka. Kalibata adalah labuhan awal tokoh legenda ini untuk menyusun kembali perjuangannya. Sekembalinya ke Indonesia, keprihatinan Tan Malaka sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia harus mulai kembai berjuang untuk membebaskan rakyat Hindia Belanda dari dua hal, yaitu penjajahan Belanda dan sekaligus juga membebaskan mereka dari kegelapan mistik bangsa timur.
Itulah yang menyebabkan Tan Malaka menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Sebuah mahakarya penting yang diwariskannya bagi anak bangsa. Madilog ditulis untuk mengubah bangsa Indonesia dari alam mistik dan kegaiban ke alam yang terang-benderang berdasarkan ilmu pengetahuan.
Madilog ditulis bukan untuk dihapalkan, melainkan untuk diamalkan sebagai senjata berfikir. Bagi orang yang serius mempelajari filsafat, mungkin akan menemukan banyak kekurangan dan kekeliruan dalam Madilog. Namun, itu tidak mengurangi pentingnya arti Madilog bagi kehidupan bangsa Indonesia. Sebab, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk pejabat, politisi, bahkan presiden sekalipun, Madilog yang ditulis 66 tahun yang lalu itu masih terlalu canggih dan maju.
Madilog, bagi Tan Malaka, adalah ilmu tentang cara berfikir yang benar. Dasar berfikir yang benar menurut Tan Malaka adalah Materialisme. Kadang-kadang, Tan juga menyebutkannya sebagai Matter. Meskipun dalam bahasa asing dua kata itu punya makna berbeda, tetapi Tan Malaka sebenarnya hanya ingin menyatakan satu hal, yaitu berangkatlah dari kenyataan, alam nyata. Jauhkanlah diri kita sejauh-jauhnya dari dasar berfikir tahayul, mistik, dan teman-temannya.
Matter, menurut Tan Malaka, bukan sekadar benda yang kasat mata, melainkan segala macam yang besifat nyata. Jika ada orang yang ingin menyeberangi laut dengan perahu atau kapal, maka Matter bukanlah sekadar perahu dan dayung. Namun, pengetahuan tentang ombak, ilmu tentang mata angin, dan kemampuan navigasi juga disebut sebagai matter. Jadi, jika anda ingin melaut, maka bekalilah diri anda dengan perahu, dayung, pengatahuan tentang navigasi dan arah angin serta perlengkapan lainnya. Salah jika anda pergi melaut berbekal, perahu, dayung, jampi-jampi, dan sesajen untuk Nyi Roro Kidul.
Setelah memilih dasar berfkir yang benar, maka gunakanlah metode ilmiah dalam befikir, begitu kira-kira yang diinginkan Tan Malaka. Dalam hal yang sederhana gunakanlah logika dan untuk hal yang lebih rumit gunakanlah pisau dialektka. Dialektika bukan dimaksudkan untuk membatalkan logika, namun sebagai pelengkap pisau analisa, jika logika sudah buntu untuk menjawab sebuah persoalan.
Jika hanya sekadar persoalan lapar, logika sanggup menyelesaikannya. Jawaban bagi orang lapar sangat jelas dan pasti, yaitu isilah perutnya dengan makanan. Tetapi bagaimana cara agar orang tersebut bisa makan dan terbebas dari kelaparan selamanya, logika akan buntu. Kita butuh pisau yang lebih canggih, yaitu dialektika.
Jika ada seorang petani yang memiliki tanah hanya setengah hektar. Hasil tanah itu tidak cukup untuk makan keluarganya selama satu tahun. Meskipun bisa dua atau tiga kali panen dalam setahun, tetap saja tidak mencukupi untuk kebutuhan dasar si petani dan keluarganya. Itu belum termasuk jika ada serangan banjir atau hama. Di banyak daerah di Indonesia, rentenir tumbuh subur di kalangan petani seperti ini. Sampai pada suatu saat si petani tidak lagi sanggup membayar utangnya. Tanah secuil itu pun dijaminkan di atas materai kepada si rentenir.
Karena utang terus berbunga, tanah si Petani tidak lama lagi akan segera disita oleh rentenir. Jika mereka berperkara, pengadilan niscaya memenangkan si rentenir karena ada bukti perjanjian utang hitam di atas putih. Itulah logika. Dia selesai pada satu titik karena kebenaran versi logika hanya satu. Tetapi logika tidak menyelesaikan masalah. Si petani dan keluarganya masih harus melanjutkan hidup. Lalu dari mana lagi sumber kehidupan mereka? Si petani tadi akan memambah deretan orang yang akan menjadi masalah sosial bagi pemerintah.
Jika pemimpin di negeri ini tidak memiliki dasar berfikir yang benar, mereka akan memberikan solusi kebahagiaan di akhirat sebagai penghibur jutaan petani yang kehilangan tanahnya. Oleh karena itu, petani-petani di Indonesia senantiasa harus mendekatkan diri kepada yang maha kuasa dan ikhlas menerima cobaan.
Jika pemimpinnya hanya sampai ada kemampuan logika, maka ia akan menyalahkan si petani karena berutang kepada si rentenir. Apalagi sampai ada bukti hitam di atas putih Tetapi, jika pemimpin sudah menguasai dialektika, dia akan sampai pada pertanyaan: Kenapa sampai ada masyarakat yang hanya punya tanah garapan setengah hektar? Kenapa sampai harus ada rentenir sebagai tempat berutang para petani? Lalu apa gunanya pemerintah bagi masyarakat yang semakin lama semakin terpinggirkan? Nah, dari sanalah kita mencari jawaban terhadap persoalan tadi.
Itulah yang disebut dengan Madilog secara sederhana. Kita diajarkan secara runtut mulai dari dasar berfikir sampai dengan pemilihan metode berfikir. Jika ini dilaksanakan, dalam pikiran Tan Malaka, bangsa Indonesia akan terlepas dari selimut kelam kebodohan.
Tan Malaka, seorang revolusioner tulen tidak bernasib mujur di negeri sendiri. Meskipun mati-matian berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka akhirnya harus tewas dieksekusi oleh tentara berpangkat rendah. Ironisnya, pembunuh Tan Malaka adalah tentara Republik Indonesia, negara yang sudah ia mimpikan sejak menulis brosur ”Menuju Republik Indonesia” tahun 1924. Tan Malaka ditembak mati 21 Februari 1949, di Desa Selo Panggung, di Lereng Gunung Wilis, Kediri.
Sama seperti nasib tuan pembuatnya, Madilog juga tidak mujur negeri sendiri. Meskipun berupa mahakarya yang didedikasikan untuk rakyat Indonesia, hanya segelintir orang yang pernah membacanya. Madilog lebih sebagai legenda yang dibicarakan dari mulut ke mulut (sama dengan Tan Malaka) namun tidak pernah dibaca dan dipahami secara serius, apalagi untuk diamalkan. Madilog lebih mirip seperti fosil sejarah yang hanya dikagumi di balik etalase museum. Banyak orang yang berdecak kagum terhadap Madilog, tetapi tidak tahu apa itu Madilog selain kepanjangannya.
Padahal, untuk saat sekarang ini, Madilog masih sangat relevan untuk dipelajari secara serius, tidak hanya untuk mahasiswa filsafat, melainkan seluruh orang yang sudah menempuh pendidikan universitas. Meskipun Tan Malaka membuat Madilog untuk ditujukan kepada masyarakat Indonesia yang sudah menyelesaikan pendidikan dasar, tetapi harus diakui isinya masih terlalu berat untuk dipahami otak kebanyakan bangsa Indonesia. Apalagi sudah sedemikian lama diselimuti oleh kabut tahayul dan kegaiban.
Ada ketakutan, jika Madilog dipelajari dan disebarluaskan, akan menggiring bangsa Indonesia untuk menjadi Ateis. Sementara agama dan Tuhan adalah suatu hal yang sangat penting bagi masyarakat kita. Di sinilah letak kelemahan mental kita. Generasi orang tua kita tidak pernah membiasakan otak anak-anak mereka dengan dialektika, termasuk membaca gagasan yang salah satu isinya menegasikan soal ketuhanan.
Madilog adalah pisau berfikir. Dia tidak hanya bisa digunakan oleh orang yang tidak bertuhan, tetapi oleh siapa saja. Sebab, desain Madilog sudah dibuat sehalus mungkin oleh Tan Malaka untuk tidak membabi-buta menghancurkan agama masyarakat Indonesia. Toh, akhirnya bagi Tan Malaka agama adalah pilihan hidup yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun, termasuk oleh komunitas dan negara. Ia benar-benar berdiri sebagai hak individu.
Yang penting adalah bagaimana cara berfikir yang digunakan. Kita bisa saja tidak harus berdebat soal ontologi tentang asal muasal segala sesuatu.Tapi cukup berangkat dari epistimologi yang benar. Mungkin saja kita seorang penganut metafisika secara ontologi, tetapi secara epistimologi adalah seorang penganut empirisisme. Sederhananya begini, mungkin saja anda adalah seorang yang taat beragama dan sangat percaya pada keadilan Tuhan. Namun saat anda dizalimi oleh siapapun, termasuk oleh negara, anda tidak melihat itu sebagai cobaan atau kutukan Tuhan. Namun benar-benar sebagai sebuah kezaliman yang harus dilawan. Maka langkah terbaik adalah bergerak melawan ketidakadilan itu. Anda tidak diam dan menenggelamkan diri sampai larut malam bercengkrama dengan Tuhan agar terlepas dari segala penderitaan.
Pria yang berumur hampir 50 tahun ini sebenarnya berada dalam kondisi yang amat miskin. Kesehatannya pun tidak terlalu baik. Oleh sebab itu, ia hanya mampu menulis sekitar tiga jam sehari. Lebih jauh lagi, dia tidak punya cukup uang untuk membeli buku referensi agar tulisannya lebih berkualitas.
Laki-laki itu adalah Tan Malaka, lengkapnya Ibrahim Gelar Datuak Tan Malaka. Seorang yang lebih dari 20 tahun sebelumnya berada dalam pembuangan jauh dari negeri yang dicintainya. Namanya, Tan Malaka atau Ibrahim, sudah dua dasawarsa tidak pernah lagi digunakan. Telinganya tidak pernah mendengar orang memanggilnya dengan nama sebenarnya. Ia lebih terbiasa dengan nama Ong Son Lee, Elias Fuentes, Husein, dan masih banyak nama samaran lainnya.
Tan Malaka meninggalkan Pulau Tumasik, menyelundup masuk ke Indonesia karena membaca tanda-tanda kekalahan Belanda dalam perang perang melawan Jepang, awal 1942. Dari Singapura, ia menaiki kapal kayu menyeberang ke Sumatera. Padahal, jika menuruti akal sehat, Tan Malaka seharusnya sudah puas dengan kehidupan yang nyaman di Singapura sambil mengajar di sebuah sekolah Cina tingkat lanjutan.
Namun, panggilan tanah air tidak kuasa ditolak oleh Tan Malaka. Kalibata adalah labuhan awal tokoh legenda ini untuk menyusun kembali perjuangannya. Sekembalinya ke Indonesia, keprihatinan Tan Malaka sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia harus mulai kembai berjuang untuk membebaskan rakyat Hindia Belanda dari dua hal, yaitu penjajahan Belanda dan sekaligus juga membebaskan mereka dari kegelapan mistik bangsa timur.
Itulah yang menyebabkan Tan Malaka menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Sebuah mahakarya penting yang diwariskannya bagi anak bangsa. Madilog ditulis untuk mengubah bangsa Indonesia dari alam mistik dan kegaiban ke alam yang terang-benderang berdasarkan ilmu pengetahuan.
Madilog ditulis bukan untuk dihapalkan, melainkan untuk diamalkan sebagai senjata berfikir. Bagi orang yang serius mempelajari filsafat, mungkin akan menemukan banyak kekurangan dan kekeliruan dalam Madilog. Namun, itu tidak mengurangi pentingnya arti Madilog bagi kehidupan bangsa Indonesia. Sebab, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk pejabat, politisi, bahkan presiden sekalipun, Madilog yang ditulis 66 tahun yang lalu itu masih terlalu canggih dan maju.
Madilog, bagi Tan Malaka, adalah ilmu tentang cara berfikir yang benar. Dasar berfikir yang benar menurut Tan Malaka adalah Materialisme. Kadang-kadang, Tan juga menyebutkannya sebagai Matter. Meskipun dalam bahasa asing dua kata itu punya makna berbeda, tetapi Tan Malaka sebenarnya hanya ingin menyatakan satu hal, yaitu berangkatlah dari kenyataan, alam nyata. Jauhkanlah diri kita sejauh-jauhnya dari dasar berfikir tahayul, mistik, dan teman-temannya.
Matter, menurut Tan Malaka, bukan sekadar benda yang kasat mata, melainkan segala macam yang besifat nyata. Jika ada orang yang ingin menyeberangi laut dengan perahu atau kapal, maka Matter bukanlah sekadar perahu dan dayung. Namun, pengetahuan tentang ombak, ilmu tentang mata angin, dan kemampuan navigasi juga disebut sebagai matter. Jadi, jika anda ingin melaut, maka bekalilah diri anda dengan perahu, dayung, pengatahuan tentang navigasi dan arah angin serta perlengkapan lainnya. Salah jika anda pergi melaut berbekal, perahu, dayung, jampi-jampi, dan sesajen untuk Nyi Roro Kidul.
Setelah memilih dasar berfkir yang benar, maka gunakanlah metode ilmiah dalam befikir, begitu kira-kira yang diinginkan Tan Malaka. Dalam hal yang sederhana gunakanlah logika dan untuk hal yang lebih rumit gunakanlah pisau dialektka. Dialektika bukan dimaksudkan untuk membatalkan logika, namun sebagai pelengkap pisau analisa, jika logika sudah buntu untuk menjawab sebuah persoalan.
Jika hanya sekadar persoalan lapar, logika sanggup menyelesaikannya. Jawaban bagi orang lapar sangat jelas dan pasti, yaitu isilah perutnya dengan makanan. Tetapi bagaimana cara agar orang tersebut bisa makan dan terbebas dari kelaparan selamanya, logika akan buntu. Kita butuh pisau yang lebih canggih, yaitu dialektika.
Jika ada seorang petani yang memiliki tanah hanya setengah hektar. Hasil tanah itu tidak cukup untuk makan keluarganya selama satu tahun. Meskipun bisa dua atau tiga kali panen dalam setahun, tetap saja tidak mencukupi untuk kebutuhan dasar si petani dan keluarganya. Itu belum termasuk jika ada serangan banjir atau hama. Di banyak daerah di Indonesia, rentenir tumbuh subur di kalangan petani seperti ini. Sampai pada suatu saat si petani tidak lagi sanggup membayar utangnya. Tanah secuil itu pun dijaminkan di atas materai kepada si rentenir.
Karena utang terus berbunga, tanah si Petani tidak lama lagi akan segera disita oleh rentenir. Jika mereka berperkara, pengadilan niscaya memenangkan si rentenir karena ada bukti perjanjian utang hitam di atas putih. Itulah logika. Dia selesai pada satu titik karena kebenaran versi logika hanya satu. Tetapi logika tidak menyelesaikan masalah. Si petani dan keluarganya masih harus melanjutkan hidup. Lalu dari mana lagi sumber kehidupan mereka? Si petani tadi akan memambah deretan orang yang akan menjadi masalah sosial bagi pemerintah.
Jika pemimpin di negeri ini tidak memiliki dasar berfikir yang benar, mereka akan memberikan solusi kebahagiaan di akhirat sebagai penghibur jutaan petani yang kehilangan tanahnya. Oleh karena itu, petani-petani di Indonesia senantiasa harus mendekatkan diri kepada yang maha kuasa dan ikhlas menerima cobaan.
Jika pemimpinnya hanya sampai ada kemampuan logika, maka ia akan menyalahkan si petani karena berutang kepada si rentenir. Apalagi sampai ada bukti hitam di atas putih Tetapi, jika pemimpin sudah menguasai dialektika, dia akan sampai pada pertanyaan: Kenapa sampai ada masyarakat yang hanya punya tanah garapan setengah hektar? Kenapa sampai harus ada rentenir sebagai tempat berutang para petani? Lalu apa gunanya pemerintah bagi masyarakat yang semakin lama semakin terpinggirkan? Nah, dari sanalah kita mencari jawaban terhadap persoalan tadi.
Itulah yang disebut dengan Madilog secara sederhana. Kita diajarkan secara runtut mulai dari dasar berfikir sampai dengan pemilihan metode berfikir. Jika ini dilaksanakan, dalam pikiran Tan Malaka, bangsa Indonesia akan terlepas dari selimut kelam kebodohan.
Tan Malaka, seorang revolusioner tulen tidak bernasib mujur di negeri sendiri. Meskipun mati-matian berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka akhirnya harus tewas dieksekusi oleh tentara berpangkat rendah. Ironisnya, pembunuh Tan Malaka adalah tentara Republik Indonesia, negara yang sudah ia mimpikan sejak menulis brosur ”Menuju Republik Indonesia” tahun 1924. Tan Malaka ditembak mati 21 Februari 1949, di Desa Selo Panggung, di Lereng Gunung Wilis, Kediri.
Sama seperti nasib tuan pembuatnya, Madilog juga tidak mujur negeri sendiri. Meskipun berupa mahakarya yang didedikasikan untuk rakyat Indonesia, hanya segelintir orang yang pernah membacanya. Madilog lebih sebagai legenda yang dibicarakan dari mulut ke mulut (sama dengan Tan Malaka) namun tidak pernah dibaca dan dipahami secara serius, apalagi untuk diamalkan. Madilog lebih mirip seperti fosil sejarah yang hanya dikagumi di balik etalase museum. Banyak orang yang berdecak kagum terhadap Madilog, tetapi tidak tahu apa itu Madilog selain kepanjangannya.
Padahal, untuk saat sekarang ini, Madilog masih sangat relevan untuk dipelajari secara serius, tidak hanya untuk mahasiswa filsafat, melainkan seluruh orang yang sudah menempuh pendidikan universitas. Meskipun Tan Malaka membuat Madilog untuk ditujukan kepada masyarakat Indonesia yang sudah menyelesaikan pendidikan dasar, tetapi harus diakui isinya masih terlalu berat untuk dipahami otak kebanyakan bangsa Indonesia. Apalagi sudah sedemikian lama diselimuti oleh kabut tahayul dan kegaiban.
Ada ketakutan, jika Madilog dipelajari dan disebarluaskan, akan menggiring bangsa Indonesia untuk menjadi Ateis. Sementara agama dan Tuhan adalah suatu hal yang sangat penting bagi masyarakat kita. Di sinilah letak kelemahan mental kita. Generasi orang tua kita tidak pernah membiasakan otak anak-anak mereka dengan dialektika, termasuk membaca gagasan yang salah satu isinya menegasikan soal ketuhanan.
Madilog adalah pisau berfikir. Dia tidak hanya bisa digunakan oleh orang yang tidak bertuhan, tetapi oleh siapa saja. Sebab, desain Madilog sudah dibuat sehalus mungkin oleh Tan Malaka untuk tidak membabi-buta menghancurkan agama masyarakat Indonesia. Toh, akhirnya bagi Tan Malaka agama adalah pilihan hidup yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun, termasuk oleh komunitas dan negara. Ia benar-benar berdiri sebagai hak individu.
Yang penting adalah bagaimana cara berfikir yang digunakan. Kita bisa saja tidak harus berdebat soal ontologi tentang asal muasal segala sesuatu.Tapi cukup berangkat dari epistimologi yang benar. Mungkin saja kita seorang penganut metafisika secara ontologi, tetapi secara epistimologi adalah seorang penganut empirisisme. Sederhananya begini, mungkin saja anda adalah seorang yang taat beragama dan sangat percaya pada keadilan Tuhan. Namun saat anda dizalimi oleh siapapun, termasuk oleh negara, anda tidak melihat itu sebagai cobaan atau kutukan Tuhan. Namun benar-benar sebagai sebuah kezaliman yang harus dilawan. Maka langkah terbaik adalah bergerak melawan ketidakadilan itu. Anda tidak diam dan menenggelamkan diri sampai larut malam bercengkrama dengan Tuhan agar terlepas dari segala penderitaan.

0 komentar:
Posting Komentar