Rabu, 28 Juli 2010 | 19:58 WIB
SEMARANG, KOMPAS.com - Nasib buruh di Jawa Tengah selama triwulan II 2010 masih stagnan, malahan dapat berubah mengkhawatirkan akibat banyak perusahaan mengubah status pekerja tetap menjadi buruh kontrak.
Tak ayal, Sepanjang triwulan II-2010, gejolak aksi massa buruh berlangsung 82 kali dengan melibatkan sekitar 28.815 massa buruh. Dari jumlah itu, kegiatan aksi buruh paling banyak diikuti sampai 9.103 orang, terutama aksi menentang PHK dan tuntutan pesangon.
"Aksi massa kedua terbanyak peserta hingga 8.879 orang, yakni memperingati Hari Buruh Sedunia," kata Divisi Pengkajian dan Informasi Yayasan Wahyu Sosial (Yawas) Jawa Tengah, Siti Qomariah, Rabu (28/7/2010) di Semarang.
Gejolak massa buruh sangat kerap terjadi 10 kabupaten dan kota. Kota-kota yang paling sering terjadi unjuk rasa buruh meliputi Semarang 14 kali, Kudus (11), Pekalongan (7), Solo (10), Sragen (2), Boyolali (1), Purwokerto (6), Kendal (7), Tegal (8) dan Sukoharjo (2).
Selama triwulan II April sampai Juni, perayaan Hari Buruh Dunia pada 1 Mei kalah ramai dibanding aksi unjuk rasa penolakan PHK oleh para buruh. Tidak lebih 8.700 pekerja mengalami PHK tersebar di Magelang, Kudus, Semarang dan Pekalongan. Buruh yang di PHK itu terutama di sektor garmen, produk tekstil dan mebel.
Praktik PHK kemungkinan akan berlanjut, menyusul pemberlakukan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) antara 15-18 persen yang dapat berdampak pengusaha melakukan efisiensi produk dengan imbasnya buruh banyak dirumahkan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, Siswo Laksono menjamin, persoalan buruh terkait dengan kenaikan TDL tidak sedrastis hasil laporan Yawas. Pihak perusahaan tidak semudah merumahkan pekerja, karena kenaikan TDL pada 1 Juli juga tidak otomatis menyebabkan peningkatan biaya dalam 2-3 bulan.
Senin, 18 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar